Never Hello without Goodbye, I realize and truly understand this natural law of life, however sometimes when I faced a last meeting, it’s hard of achieving the fact. My friend has knocked my intention in our last meeting, before saying goodbye, she said to me with her disappointed smile  ”Look down when you are up above” :(

It is terribly true at the moment. I had forgot what I have got so far which are not solely come from my own endeavor by means the goals engraved in my mind had been high above in a sky without taking care of the foot that I have stand deep into the ground. If I could be honest to myself, now, I know that so much weakness found on me, and sometime frankly I am not comparable and even nothing. I map out my life had gone by up-downhill, but that’s not the point! Whenever i look down when I am up above, I assure that I can be true to myself. Too much busy to search such thing that I am hoping for without cherishing to what I currently have. I have been pretty dull !!

dont cry for me comrades !

I think you are more than beautiful :-D

Kaledoskop 2012

Fiuhhh….waktu lekas sekali berlalu jikalau saya menoleh kebelakang catatan terakhir ditahun 2011.

Never hello without goodbye, inilah sifat alamiah yang menjadi bagian dari siklus nafas kehidupan.

2011, saya seperti kita semua tentu banyak belajar, menemukan pengalaman: rentetan kebahagiaan, ataupun kekecewaan.

1 Hal yang masih ter ngiang ditelinga, adalah tulisan di hard rock cafe  Plaza Indonesia “Love All Serve All”.

Mudah diucapkan namun tak mudah dijalankan memang, tapi jikalau segala sesuatu baik perasaan ataupun pikiran yang ada dikita hanya berdasarkan “aku…aku aku dan aku”, dalam arti semua yang kita rasakan tergantung terhadap bagaimana orang2 dan lingkungan bersikap kepada kita, maka hidup ini akan terasa sangat EGO dan TEROMBANG AMBING. Sebaliknya :

Mencoba belajar untuk mencurahkan hidup sebagai pengabdian/melayani, maka kita merasa bahagia ketika kita bisa memberikan sesuatu kebagiaan atau apapun kepada orang lain, memberi-memberi-memberi dan memberi, dan jika dalam proses ini kita merasakan kebagiaan, hidup ini rasanya sungguh indah dan lega. Sebaliknya, kesedihan muncul jikalau kita kehilangan jiwa charitable ini, lebih dari sekedar memberikan charity, tapi being charitable lah kebahagiaan yang saya rasakan datang. Pelajaran ini saya dapatkan dari Mother Theresa dan Mahatma Gandhi.

Kemudian dalam proses menjalaninya, beberapa minggu ini saya kembali diingatkan oleh kawan lama saya bernama Randi Pausch, dalam commencement nya beberapa minggu sebelum meninggal, dia mengatakan berpesan bahwa, tidak tergantung pada berapa lama kita hidup didunia ini, tapi bagaimana memanfaatkan hidup ini dengan baik, dan tiap langkah dan nafas harian kita selalu memperkaya “JIWA” kita, sampai kita menyadari akan betapa pentingnya kita bagi orang-orang disekeliling kita, apa yang bisa kita berikan untuk membahagiakan orang yang kita cintai, itulah makna kebahagiaan itu sendiri yang sesungguhnya. Dan sungguh bahagia tampaknya kawan saya itu, bahwa dia telah mencapai kebahagiaan lewat membahagiakan, membantu dan merealisasikan mimpi orang-orang diseklilingnya (*yang notabene merupakan impian masa kecilnya juga). Semua bisa dilakukanya karena baginya setiap hari sungguh ia manfaatkan utk tujuan diatas tadi. Akhirnya ia tak lagi merasa sedih dan repot memikirkan ini itu menjelang hari-hari terakhirnya menuju sang pencipta.

Jikalau berbicara penderitaan, kekecewaan, dan sejenisnya, tentu dengan mudah setiap orang bisa menjelaskan panjang lebar, mengurutkan ribuan jumlahnya, namun saya selalu mencoba mengiatkan diri, dibalik penderitaan-penderitaan itu, tentu banyak orang yang jauh lebih menderita dan tidak beruntung dibandingkan kita, patutlah kita syukuri apapun yang kita punya saat ini, lebih dan kurangnya adalah masalah waktu.

Yakinlah jika kita dpt melakukan hal hal kecil yg baik maka kita dpt pula melakukan hal2 besar dgn baik, oleh karena itu tepatilah waktu kita dgn penuh kesungguhan dan keikhlasan, sesungguhnya hakikat keberhasilan berada pada proses menuju keberhasilan itu sendiri.

Terimakasih atas pelajaran berharganya :)

Tetap berusaha 2012 :-)

KAIST, 1st January 2012: 1.15 AM

 

70 Gejala Kepecundangan

5 tahun telah berjalan, sejak kami bertemu dan berkumpul bersama berbagi tawa, dan mentertawaakan keadaan.

Setiap gejala telah dikumpulkan, dan berikut keadaannya:

 

1. Merindukan sesuatu, tapi gak tau siapa yang dirindukan

2. Belum pernah memiliki, tapi sudah merasa kehilangan

3. Sudah kehilangan, tapi masih merasa memiliki

4. Kekalahan ke-sekian kali serasa kekalahan pertama kali

5. Bosen dengan hal-hal lama, tapi malas mencoba hal-hal baru

6. Senang, tak bisa berbagi. Sedih, tak ada yang sudi menemani

7. Tiap kali berharap, tiap kali kecewa

8. Belum mencoba, sudah gagal duluan

9. Gak punya penyakit asma, namun dada sering terasa sesak

10. Tau  apa  yang harus dilakukan, tapi gak tau harus mulai dari mana

11. Bangun selalu kesiangan, karena tidurnya selalu kepagian

12. Bosen di rumah, tapi males keluar rumah

13. Setiap malam minggu selalu de javu

14. Ingin menangis tapi gak tau sebabnya

15. Takut berkompetisi, berani kalah (kalo orang normal: berani berkompetisi, takut kalah)

16. Ngejar 1 hal, malah kehilangan banyak hal

17. Ngomongin orang di belakang, dgn teman2nya yg juga sesama pecundang

18. Suka mencuri-curi pandang, tapi langsung menunduk atw membuang muka jikalau bertatapan pandang

19. Tenang di luar, begejolak di dalam

20. Tiap kali ngecek notifikasi, tiap kali hanya dari aplikasi (contoh kasus1 di facebook

21. Pengen di-approved, tapi gak berani nge-add (contoh kasus2 di facebook)

22. Pasang status invisible, tapi pengen di-buzz (contoh kasus di YM)

23. Merasa sepi di keramaian

24. Gelisah di tempat umum, seperti garuk-garuk kepala meskipun gak gatel, atw mengusap hidung, atw tangan bersedekap, atw  bersiul, atw kaki digoyang-goyang

25. Ingin perhatian, tapi salah tingkah jika diperhatikan orang

26. Bengong kalo gak ada kerjaan, bingung kalo banyak kerjaan

27. Susah tidur, tapi lebih susah bangun kalo dah tidur

 28. Doing nothing, but expecting too much

29. Murah hati. Gampang sekali jatuh cinta, bahkan dari nonton film aja bisa langsung jatuh cinta sama aktrisnya

30. Maju  tanpa tujuan, mundur tanpa alas an (orang normal: maju dengan tujuan, dan tanpa alas an untuk mundur)

31. Suka menunda kerjaan-kerjaan yang penting, tapi lebih suka lagi melakukan kerjaan-kerjaan yg gak penting

32. Baru bangun, ngantuk lagi

33. Semalam sebelum ujian , fotokopi semua catatan temen, padahal belum tentu dibaca

34. Tiap kali ujian adalah latihan soal pertama kali

35. Pengen pinter, tapi males belajar

36. Pengen belajar, tapi males buka buku

37. Belajar 10 menit, istirahatnya 30 menit

38. Banyak maunya tapi gak ada usaha

39. Banyak usaha tapi tapi gak ada hasilnya

40. Benci sama anak gaul, tapi pengen jadi gaul

41. Jarang nyapa orang, sekali nyapa, dicuekin

42. Jarang disapa orang, sekali disapa, ternyata salah orang

43. Pandai menciptakan peluang, namun tidak pandai mengambil peluang

44. Pengen menjalin hubungan, tapi gak berani kenalan

45. Baru kenalan, sudah dilupakan

46. Tiap kali jatuh cinta, tiap kali patah hati

47. Belum nembak, sudah ditolak

48. Mampu bermimpi tanpa harus tidur dulu, dan susah tidur karena terus bermimpi

49. Selesai berfantasi, berfantasi lagi

50. Pengen pergi, tapi gak tau tujuannya kemana

51. Pengen olahraga tapi gak pengen keringetan

52. Baru merencanakan, sudah kandas duluan

53. Setiap kali kalah, cuma bisa pasrah

54. Setiap kali didzalimi, hanya bisa menghibur diri sendiri

55. Kehadiran  tak ditunggu-tunggu, kepulangan tak ada yg melarang

56. Senang karena melihat orang lain senang, sedih karena melihat diri sendiri

57. Gak mau diatur oleh orang lain, tapi gak bisa ngatur diri sendiri

58. Gak bisa memilih pemimpin, tapi gak mau dipilih jadi pemimpin

59. Lambat  membuat keputusan, namun ragu-ragu menerima keputusan

60. Selalu bimbang di persimpangan jalan

61. Melakukan dengan cara yang sama, tapi mengharapkan hasil yang berbeda

62. Tiap kali mati, tiap kali terlahir kembali (mengomentari definisi pecundang versi lain: pecundang hidup sekali, tapi matinya berkali-kali)

63. Hari-hari yang dijalani, hari-hari yang hampa dan sunyi

64. Pandai meyakinkan orang lain, namun tak pandai meyakinkan diri sendiri

65. Gampang  Ge eR, namun sulit percaya diri

66. Mendapati orang yg tepat di saat yang gak tepat, atw mendapati waktu yang tepat namun tidak menemukan orang yg tepat

67. Tatkala banyak pilihan gak bisa memutuskan, namun ketika sudah bisa memutuskan pilihan tersebut sudah gak ada

68. Sms  14 orang, gak ada 1 pun yang balas (Hp ditinggal 2 minggu gak ada yg masuk inbox, kecuali sms dr Indosat)

69. Hp  ketinggalan seminggu di rumah temen, gak ada sama sekali missed call yg masuk (sekalinya ada telpon, salah sambung)

70. Terlalu sibuk mencari apa yang gak dimiliki,  sampai lupa mensyukuri banyak hal yg telah dimiliki

 

Taman Lagura Indah, 2011/11/15.

 

Jalan-jalan Autis

Being “autistic” and take a short break by isolating yourself from daily activities and sociaties  sometime is really powerfull to rejoice your soul, mind, or physical mentality. It is not about get rid of stresfullness or escaping your personal problems, but above all it is enjoyable :-)

Eversince my childhood I have been fascinated by being trapped in the middle of nowhere, and long after accustomed in doing it (travelling) alone or with my friends, and so far I have called them as “comrade”. The point is it is quite difficult to find a comrade with whom I can travel with, we must inline of enjoying every step of spot in our journey, otherwise the travelling would not be enjoyable anymore. For me spending the journey with girls are inconvenient and annoying in most of the cases, but everything is really depending on something, as long they are able to enjoy every moment along of travelling rather than destination itself, It doesnt matter. (*It is not applicable to other cases, just only in term of JJA)

The places should not be much interesting or famous ones, they could be just a river across your dormitory, or a small forest nearby, and so forth. Because the pivotal thing is how you can feel a new experience or re-inventing it in the old place you used to pass by, instead of how the places affected your way of feeling. Therefore for those both new and old place are not the primary, however If you could visit the new places, it would be better in somehow.

Well, It has been such a long time I hadn’t had time to do it, and today I went alone and found some new spots that I had never been before. As usual, I prepared some lists of musics to be listened (I selected the most appropriate ones), my pocket camera (just for show off to other people), and my bike (sometime  I still prefer go longer by walking, considering of the possibilty of fall down, or any other accident that could happen If we dont keep our balances).

Herein some of the pictures :

https://picasaweb.google.com/desakubila/JalanJalanAutis#5617350872921581618

*Quality of the pictures is just a secondary, and the feeling behind it that is the thing that I would share with you

keren

1. Data Inconsistency for proceeding papers

2. Terribly rejected request for doctoral position in my previous place

3. Postponing letter for the invitation QE  till next year

4. 2 times late for TEM (measurement) reservation

5. Too much expectation without any trust

Hell heaven wherever you are, preferring traditional notion, satisfaction or whatsoever than compassion and faith?

I believe in you

<………..아침에………….>

어제 기숙사화장실어세, 그런당혹스러운 하루를보냈어요. 그런당혹스러운

나는아침에 일어나서는데 화장실에갔어요.

나는 샤워실어서 타월과 비누와 삼뿌와 칫솔을넣었는데 커튼을가까운어요,

그러면아무도 그것을 차지하지못했습니다.

내가화장실에 볼일에 갔어요.

나는 확인 휴지를 하는것을 깜빡했어요.

나는몇분정도 기다려 야합니다, 때문에 아주모니는 화장실정를 소해서요.

아주모니는 후에가요.

나는 빨리 다른 방에 있던휴지를 가졌어요 konyol.

나는 샤워실어 왔는데 내샤워실을 잊었이요,

때문에 모든 샤워실은 닫혀있어요.

나는 내방을 기억못했습니다.

나는 모든방을 하나씩 확인했어요, 그러면 모두들두려 워했어요.

그날아침나빴어요 !!!

<………….Medical Clinic 어세………..>

나는 한국어수업을 했다습니다, 그러면 내선생님을 이것에 대해 말했습니다.

지난금요일어는 KAIST Medical Clinic 어세 었었어요.

내이빨을체크. Doctor 와약속을했다. 저는아짐에왔어요.

간호사들이날기다렸어요.

간호사가봤어요 : “이름이뭐에요 pipi memerah ? , 약속을헜어요? “

내가  말한 차습니다 : 네 !, 나는 Gede Widia Pratama Adhyaksa 입니다.

간호사들이 기다리고앉아서나를기쁘게헜어요.

그동안에저는커피를원한, 하지만간호시는준비부탁, 그러면 전는약을준비가되어있었고.

편안한의자어서 앉아있었는데.

간호사는 내이빨을 청소했습니다, 그리고 이빨충치를 체크핬습니다.

이과정은 시끄러운, 끊임없는고흥의 연속이다.

이것은 쩌는싫어요 !!!

의사는 다음주일어 내껌을 검사합니다.

물한잔 내이빨을 씻어고 쁜습니다 하지만 저는참니다.

간호사들이 우습니다berguling di lantai

이것은재미있어요 whew!

Kaleidoscope 2010

Hi 2011, perkenalkan nama saya pram, meski org memanggilku dgn berbagai nama, cara, kebiasaan dan bahkan merasa sdh mengenalku dgn baik. Dalam hidupku yg baru seumur jagung ini, sdh dpt kurasai ilmu pengetahuan telah memberikan sesuatu restu yg tak ternilai harganya : Ilmu pengetahuan yg sejati, kudapatkan mulai dari bangku sekolah sampai suka-duka kehidupan, mereka semua menghampiri dari sinar segala penjuru arah, seolah mereka mendekat tanpa henti, menembus batas-batas identitas yg selama ini dibuat manusia. Saya tidak lagi membutuhkan dogma dan pelbagai daftar panjang tentang apa yg harus dilakukan, dan apa yg tidak boleh. Pengetahuan ini sdh cukup bagiku untuk memilah dan menentukan pilihanku sendiri, karena saya tidak diperbudak oleh pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan ini membebaskan saya, dan tidak hanya mengajarkan kedamaian, namun jg mendamaikan sanubari saya.

Saya tdk tahu akan diberikan hidup oleh Tuhan sampai kapan, tetapi permohonanku kepada-Nya, semoga hidupku ini bermanfaat, bermanfaat bagi ibu pertiwi, alam, sesama manusia, dan org yang saya cintai. Inilah permohonanku yang selalu saya panjatkan ditiap2 kali sembahyang. Saya hanya minta ditunjukkan jalan yg benar, hal berjalannya harus saya jalani sendiri, saya tidak mau minta digendong oleh Tuhan.

Maafkan !, saya bknlah penyair salon yg duduk diam, dan pandai bersajak indah tentang anggrek dan rembulan. Saya musti belajar turun ke jalan, memahami kondisi dan merumuskan keadaan. Tahap demi tahap harus saya jalani dgn penuh kesadaran, senang-sedih selalu dtg silih berganti, pun ditengah persimpangan jalan terjebak kebimbangan, dan saat itu akan tahu jikalau saya sedang tumbuh sbg manusia. Dengan pengetahuan sejati diatas, saya belajar untuk memenuhi dorongan dasar sebagai manusia normal, yaitu kebutuhan materiil dan non-materiil. Kebutuhan materiil seperti keamanan sosial berupa uang dan kekayaan materiil lainnya, dan kebutuhan non-materiil berupa kesehatan, pendidikan, makan, dll. Sadar tanpa pilar ini, dan dijaman skrg ini kebahagiaan dan makna hidup akan terasa hambar. Tidak mungkin kan hidup hanya dengan bekal kebijaksanaan atau ilmu pengetahuan saja bukan?! tanpa disokong oleh kekayaan materiil dan non-materiil diatas (*Ayah saya bs jd tdk setuju akan point ini). Tapi 2 kebutuhan diatas terasa mengawang-awang dan bs menjatuhkan jikalau tidak berada diatas fondasi ilmu pengetahuan sejati tersebut. Saya menyadari, semua pada akhirnya akan bermuara pada pembebasan jiwaku sbg serpihan kecil ciptaan Yang Agung.

Saya (spt halnya kita semua) akan belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

1 Tahun kemudian catatan pendek ini akan kubaca lagi dan kupelajari kembali, mungkin saja berubah lain dari aslinya. Tak kepalang tanggung, bagaimana kemudian hasilnya….hari depan memang selalu menggoda, dan saya hanya mau memfokuskan diri dgn sebaik-baiknya utk hari ini saja, tanpa terjebak akan hari esok dan kemarin.

Terimakasih 2010, ijinkan aku mengenalmu 2011.

Natur-trifft Kultur !

I was here at the last day before my departure heading back to South Korea.

Greatly thanks to my lovely family, Om Gecko, Geynor, and Natalie, together with the old friends of my parents who were staying in Tirol area nearby Munchen for accompanying me during the time. Feeling the fresh air, refreshing my soul that was missing my heart in South Korea is the thing that I still remember up to now.

http://picasaweb.google.com/desakubila/HinterrissEngAustria#

Mengambil Keputusan

Saya sebelumnya tidak tahu judul yang tepat untuk catatan saya kali ini apa. Tapi ini berawal setelah mendengarkan kuliah dosen saya berjudul first principles calculation (*sensor tidak menarik utk dibahas disini), ok hal penting yang saya tangkap dari sini adalah mengenai (*saya gunakan bahasa saya sendiri) the originality of thought atau the uniqness of entity, dalam arti bahwa tidak 1 pun element di alam ini yang 100% sama dengan element lainnya termasuk pribadi manusia, terlebih lagi faktor waktu yang terus berjalan baik lurus ataupun berputar sifatnya, entahlah !

Ini sebenarnya bukan hal yang baru bagi saya, karena secara prinsip sayapun mempercayai hal ini. Kadang-kadang banyak orang berusaha menyerap ilmu kemudian menggunakan ilmu tersebut untuk menyelesaikan masalah, dan hasilnya berantakan, yahh…menurut saya tidak semua solusi bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang sama. Ok lihatlah Papua, berapa banyak program kerja pemerintah yang bisa berhasil diterapkan di Papua?! (*maaf ngelantur), saya tiba2 ingat buku berjudul “Ekspedisi Tanah Papua” tentang fakta-fakta ini. 1 solusi atau program atau apappun itu yang kiranya berhasil diterapkan di 1 provinsi belum tentu mendapatkan hasil yang sama dan bersambut ria jika diterapkan di provinsi yang lain. Jikalau kita ingin mempelajari sesuatu untuk menyelesaikan sesuatu (*misal), pelajarilah dengan seksama, janganlah ditelan mentah-mentah, karena apa yang baik dari orang lain belum tentu baik juga bagi kita, mencari arti dalam arti memang mudah dikatakan tapi tidak semudah yang dilakukan, butuh kesadaran dan ketenangan tinggi, perlu latihan. Be yourself, dengan menundukan ego, saya sangat senang sekali belajar dari banyak orang, tidak musti hal-hal yang berbau serius, hal-hal santai dan tidak penting pun bisa memperkaya kita klo kita sadar.

Seperti apa yang pernah dikatakan guru besar TI ITB, Pak Raka, seraplah banyak hal dari luar, dan adaptasikan dengan internal yang ada pada diri kita masing, semoga kita bisa tumbuh dewasa dengan originalitas dan keunikan kita masing tanpa harus berpura-pura dalam kepalsuan belaka. Ya begitulah, saat itu memang saya lebih menyerap filosofi dari kata2 dosen saya itu dibandingkan dengan ilmu quantum mechanics (*masih dasar2) yang dia berikan hehehe…..mungkin karena waktunya yang kurang cocok (Dinner time 5.30-7 pm) jadi saya mendengarkan sambil posisi tidur setengah mateng. Ok terimakasi Pak ^^

Terkait dengan pengambilan keputusan, keunikan dan originalitas pun bagi saya sangat diperlukan.  Kita sendiri pun kadang-kadang sangat mudah mensitir atau mengutip kata-kata atau tindakan seseorang yang “punya nama”, kemudian menirukannya, dan bahkan ingin menjadi 100% sepertinya, tanpa menggali keunikan dan potensi diri yang ada pada diri kita sendiri. Tenang ini wajar, terlebih anak2 remaja/muda yang memiliki tokoh idola, seperti ketika saya masih sma, saya ingin sekali bisa menyanyi diatas panggung layaknya Axl Rose (GNR), tapi bagaimana bisa, wong tampil diatas panggung saja masih grogi…hehehe. Atau mungkin seperti Russell Crowe di film Gladiator ” What we do in life echoes in eternity ! “, saya pernah sering mengucapkannya ke tmn2 kalau kita sedang dalam kondisi bingung, alhasil mereka tertawa dan bilang “ngomong apa sih?” yaaaa…emang gak nyambung dan gak pada tempatnya mengucapkan itu hehehe., belum lagi suara Russel Crowe berat dan berwibawa seperti Van Diesel atau Hugh Jackman, yang benar2 seperti langit dan bumi dibandingkan suara saya yang hancur lebur berantakan guling2.Ya begitulah kalau kita mencoba meniru orang mentah2 dan menerapkannya di saat yang tidak tepat.

Medan perbuatan tidak semudah medan kata-kata, ini salah satu quote2 terucap yang saya ingat ketika menjadi anggota biasa HMFT di ITB dulu. Memang mudah sekali menghafalkan quote2 bagus, tapi quotes2 itu tetaplah hampa tanpa dirasakan atau dilakukan. Ok mumpung ingat, sebuah perenungan dangkal saya di sebuah gereja tua yang tidak sengaja saya masuki, dan memang tidak masuk di list itenaries perjalanan saya. Gereja itu bernama Saint Eustache (*mudah2an gak salah) letaknya dekat Forum Les Halles (*tempat sbenarnya yang ingin saya tuju, karena ramai dan salah satu tempat kongko-kongko di Paris).  Setelah membaca buklet2 informasi yang ada, menurut saya gereja ini tidak seterkenal dan tidak seramai gereja2 lain di Paris (e.q Notre Dome). Saat itu saya mencoba duduk di altar sambil beristirahat, menundukkan kepala-memejamkan mata seolah-olah sedang berdoa, setelah kira2 30 menit dalam kondisi tidur setengah mateng saya kembali terjaga dan melihat sekitar saya, suasana begitu tenang hanya ada beberapa org saat itu, aroma-aroma dan design bangunan pun membawa saya terbang seolah-olah sedang ada di abad pertengahan, zaman dimana Michaelangelo Buonarroti dan Leonardo da Vinci saling berlomba-lomba dalam berkarya seni. Kemudian ada yang janggal terlihat, saya selalu heran mengapa orang-orang lebih senang menyalakan lilin dan mungkin meminta pencerahan dihadapan patung Yesus yang jelas-jelas tampak menahan sakit didalam salibnya.?! bukankah ini terlalu ego?ya saya tidak tahu, tp biarkanlah saya berekspresi sejenak dulu, ok, mungkin inilah yang namanya kebesaran jiwa yang sangat diperlukan dalam mengambil keputusan, komitmen penuh dalam mencintai seluruh umat manusia, selayaknya mencintai diri sendiri. Ahhh ini tidak semudah yang diucapkan, bisakah kita mencintai tetangga kita/org yang belum kita kenal selayaknya mencintai keluarga kita?! benar2 dibutuhkan jiwa yang sangat besar, indah memang diucapkan namun tidak mudah dilakukan, saya pun tidak yakin 100% Mahatma Gandhi mampu mencapai sifat kasihnya mencintai seluruh umat manusia tanpa perbedaan, seperti samudra layaknya kemanusiaan yang selalu bersih meski tertetesi noda dari limbah. Entahlahh…paling tidak saya belajar tentang kebesaran jiwa dalam mengambil keputusan, hati kita tetaplah lemah meski dengan menyalakan lilin, jikalau tidak kuat dan mau menggendong beban salib yang ada di Saint Eustache itu. Sekarang saya mengerti apa yang saya tulis saat ini, memang pengambilan keputusan apapun itu, untuk diri sendiri atau hal-hal publik lainnya selain harus bersifat unik/original dalam arti benar-benar pas dengan pribadi kita ataupun tradisi setempat, haruslah berangkat dari jiwa yang besar dan tidak menengadah.

Nah sekarang hal tersulit bagi saya mungkin dalam mengambil keputusan adalah untung-rugi (baik-buruk). Seringkali hal ini membawa kita dalam situasi keragu-raguan dan memperlemah mental kita dan semakin pengecut pada akhirnya. Ini wajar, bahkan tokoh pewayangan sekaliber Arjuna saja masih ragu dalam berperang di medan Kurushetra, sebelum mendapat pencerahan dari Krishna. Bagaimana tidak musuh-musuh yang dihadapinya saat itu adalah keluarga-keluarganya sendiri (sepupu,paman, kakek, dll). Keragu-raguan dan ketakutan mungkin enak dan indah terdengar untuk dibahas, tp tidak seindah yang dirasakan langsung, misalkan dulu saya sangat ragu bisa berlari mengelilingi lapangan sabuga lebih dari 20 putaran non-stop (karena 4 putaran saja sudah ngos-ngosan), inipun karena dipaksa sahabat-sahabat saya Gama, Alif, dan Kang Yoga untuk latihan menembus batas persiapan sebuah pertandingan bela diri di bandung, karena menurut guru kami ketakutan terbesar dalam hidupnya adalah detik-detik sebelum bertanding menghadapi lawannya diarena, karena seluruh keraguan, adrenalin, dan takut akan mati selalu membayangi (*mengingat sering kali orang cidera, pingsan, dan bahkan mati dalam olah raga bela diri jenis ini, San-Sho, karena sangat keras), akhirnya keraguan dan ketakutan itu terjawab sudah, saya mampu mengelilingi lapangan sabuga 22 kali+1x fast sprint+1x jalan santai, alhasil kaki saya esok harinya mati rasa, seperti sudah di amputasi, dan terpaksa memanggil tukang pijat langganan kami, ditengah hujan deras malam minggu, seolah olah malam minggu sudah berubah menjadi malam jumat…heheh. Ikan-ikan saya pun tampaknya sudah kehilangan urat malunya bergerak kesana kemari menertawakan saya, seperti biasa teman-teman yang lain mulai berkumpul di kamar saya, bermain gitar, chapsa, dan WE sambil makan Indomie goreng buatan Dimas, dan susu coklat dari Luki.

Well, back to my leptop, banyak tools sebenarnya yang pernah saya pelajari dalam mengambil keputusan ini, mulai dari SWOT Analysis yang populer dipakai di organisasi2 anak2 kampus dulu ataupun kuliah Decesion making di SBM ITB oleh Pak Kuntoro Mangkusubroto, bagi saya tak satupun yang memberikan jawaban memuaskan tentang keragu-raguan ini, padahal ini lah hal paling riskan menurut saya (*mungkin karena saya sering merasakannya). Siapa sih org yang tidak pernah sama sekali merasa ragu-ragu dalam mengambil keputusan?tidak ada !!, karena kita pasti selalu menimang dan memikirkan setiap sisi baik dan buruknya setiap pilihan dari keputusan yang bakal kita ambil, namun yang terpenting adalah kita harus memilih, karena pilihannya bukanlah baik atau buruk, karena tidak ada 100% kebaikan ataupun 100% keburukan, disetiap sisi kebaikan yang kita lihat pastilah ada keburukannya, demikian juga sebaliknya, pasti ada sisa-sisa atau keunikan yang baik dari sebuah keburukan yang kita lihat. Tidak mengambil keputusan pun merupakan sebuah keputusan juga. Berkerjalah tanpa keterikatan akan hasil, tak perlu memikirkan kemenangan atau kegagalan, dengan jiwa seimbang, dan tidak terikat pada pengalaman suka dan duka, berkaryalah dengan penuh semangat !

 

Musim Panas 2010

Hari ini saya mengunjungi kembali ruangan/kantor lama saya sejak 5 minggu lamanya. Saya mulai bergerak memasuki ruangan dengan memegang handle pintunya yg unik (*karena bisa dibuka hanya dengan menggunakan lipatan kertas tanpa kunci kadang2),klekk….saya mulai bergerak masuk, melihat sekeliling ruangan yg masih berisi meja dan kursi2 untuk para anggota lab. Suasana sepi tak seorangpun disana, yang terdengar hanya bunyi jangkrik disudut ruangan…krikk krikkk yang garing (segaring lelucon saya :-p), aneh pikir saya, siang2 bolong spt ini ada jangkrik, mungkin ini bukti bahwa alampun kadang2 bertanya2, entah apa jika ditinggalkan oleh penghuninya (*mungkin saya :-p). Kemudian saja mulai duduk dikursi lama saya, menikmati empuknya bantal lama yang sengaja saya taruh diatas kursi, melihat tanaman kesayangan saya yang mungkin jg rindu setelah 5 minggu berpisah :-p, dan sekat kanan-kiri meja, membayangkan masa2 perjuangan yg telah dilewati  selama 2 semester disini. Kemudian saya nyalakan komputer saya yang masih spt semula, kadang2 suka loading2 gak jelas, dan melihat kalender meja saya, “July 2010″, beberapa agenda2 dan catatan yg harus saya siapkan saat itu, sebagian besar terkait dgn keberangkatan saya ke jerman. Seketika pikiran dan perasaan balik kembali ke 2 bulan yang lalu, awal2 pencarian Visa, berkunjung ke tmn2 di seoul, dll.

Saya merebahkan kepala sejenak di head-rest kursi dan mencoba mengatur nafas, mengenang kembali apa-apa yg sudah saya kerjakan, dengan tujuan yang diinginkan di awal. Tampaknya 100% berjalan lancar dan bahkan lebih mungkin. Mulai saya mengintip ke sudut kanan tembok, dimana saya menaruh beberapa karakter korea yg sering saya lupa pengucapaanya, dan saya teringat heheh…Seng Seng Nim, Guru bahasa korea saya yang baik sekali, terakhir kali beliau membawa saya ke coffee-shop favoritnya, tmptnya cukup jauh, tp suasananya benar2 klasik, berbau awal2 tahun 1900, disana ada mesin tik kuno, telegram kuno, dan stuff2 lain yang ditaruh cukup sembarang tp tertata di rak-rak dan beberapa di meja dan tangga. Suananyanya sepi, dengan alunan musik thn 60an mungkin. Salah satu alasan beliau membawa saya kesana mungkin karena suasanya menginatkan beliau ketika di eropa dulu, selain itu juga karena beliau gemar ber-kopi ria, saya bukanlah penikmat kopi yang baik, tp menurut penjualnya kopi ini dibuat secara khusus dan sangat traditional, jadi proses penghidangannya cukup lama (*saya liat sendiri :-p). Ya itu saja yang saya ingat ttg jamuan kopi ini sebelum pulang saya diperkenalkan dgn tmn2 dari Guru saya itu yang kebetulan datang ketika kami beranjak pergi, sambil mempraktekan bahasa korea saya yang hancur lebur berantakan guling2 tak karuan.

Kemudian komputer saya mulai hidup dan tampaknya siap untuk dipakai, well, yang saya liat pertama adalah pojok kanan bawah yaitu jam, memastikan klo jamnya masih 14.50 wkt korea, bukan 7.50 wkt jerman, waktu yang masih tercantum di laptop saya, meski sudah saya ubah seketika ketika tiba di korea (*entah knp?!, leptop yang anehhh….). Tampaknya badan saya mulai lelah dan mata mengantuk, mungkin setelah maen bola kemarin malam bersama tmn2 baru di kantor saya yang baru. Saya rebahan lagi, dan melihat sekeliling, ternyata memang benar2 tidak ada anggota lab yang datang. Krikk…krikk jangkrik mulai berbunyi lagi, tangan langsung membuka laci, tanpa tujuan untuk mencari apa, sy temukan kalkulator, sikat dan odol yang jarang saya pakai, perban-perban baru kenangan ketika pake tongkat dulu, dan sebuah catatan kuliah yang tampak tidak terorganisir dgn baik (*saya bukanlah tipe org yg bisa membuat catatan, meski kt org2 1 catatan lebih berguna dari 100 ingatan). Dan mata saya mulai segar, ternyata catatan ini mungkin bakal dipakai lagi di kuliah yang saya ambil (disuruh dosen, meski tanggung jawab kuliah saya sudah beres) semester ini. Saya buka2 lagi catatannya, dan masih ada lembar2 putih kosong, kadang2 kertas putih kosongpun bisa sangat menginspirasi saya untuk berpikir dan menulis sesuatu…..hehehe, cobalah tmn2, klo lg mencari inspirasi ambillah kertas putih, liat aja dgn tenang, pasti terpikir untuk menggambar atau menulis sesuatu. Ok ok, “das Heft” begitu kata org jerman, sebuah diktat.

Diktat yang selalu saya baca ketika masa2 perjuangan yang indah di eropa. Diktat yang kadang2 membingungankan saya, diktat yang gak masuk akal di logika saya, tapi selalu kena dihati saya. Diktat yang anehhh…. :-p

Ya sudah lah, saya harus meninggalkan diktat ini di jerman. Kata org2 mungkin bisa saja kita scan dan dibuat pdf saja, jadi tidak memberatkan tas klo digendong selama perjalanan (*meski seharusnya tidak seberat itu, karena kan sudah terbiasa ber-backpackers ria, meski sejujurnya blm pernah menggendong diktat itu sendiri). Emm….di scan trus di buat pdf, tanpa seijin penerbit itu pelanggaran hukum, dan tertulis didiktat itu sbenarnya samar2. Sportifitas dan kejujuran harus dijunjung tinggi, saya tidak mau melanggar hukum.

Mungkin bisa saja saya membaca ulang diktat ini lagi skrg, dengan suasana hangat-dingin minuman, tapi nanti saja lah. Hari ini hari pertama masa perkuliahan, hari yang begitu carah, tanpa hujan, sungguh berbeda dengan 1 hari sebelumnya. Bertemu dgn tmn2 lab, salah satunya dari Indonesia (*meski berbahasa Indonesia agak aneh). Mengikuti seminar 2 org dosen muda 1 dari EEWS (Turki) dan 1 dari Aerospace department (Korea), yang dihadiri dosen2 tamu dari luar. Saya cukup kagum dgn 1 org dosen muda ini, selain dia punya track record yang luar biasa secara akademik, beliau jg sangat memperhatikan dampak sosial, ekonomi, dll, seolah-olah dia berbicara layaknya seorang pemimpin dunia, saya semakin kagum, ketika berbicara dia sangat humble, dan cukup santun. Seorang akademisi yang jarang saya temui.

Baiklah, ini mungkin tulisan saya yang paling ngelantur, paling tidak mata saya kembali terjaga skrg, dan harus kembali bekerja dan merenungkan diri menjadi lebih baik lagi.

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.