Saya sebelumnya tidak tahu judul yang tepat untuk catatan saya kali ini apa. Tapi ini berawal setelah mendengarkan kuliah dosen saya berjudul first principles calculation (*sensor tidak menarik utk dibahas disini), ok hal penting yang saya tangkap dari sini adalah mengenai (*saya gunakan bahasa saya sendiri) the originality of thought atau the uniqness of entity, dalam arti bahwa tidak 1 pun element di alam ini yang 100% sama dengan element lainnya termasuk pribadi manusia, terlebih lagi faktor waktu yang terus berjalan baik lurus ataupun berputar sifatnya, entahlah !
Ini sebenarnya bukan hal yang baru bagi saya, karena secara prinsip sayapun mempercayai hal ini. Kadang-kadang banyak orang berusaha menyerap ilmu kemudian menggunakan ilmu tersebut untuk menyelesaikan masalah, dan hasilnya berantakan, yahh…menurut saya tidak semua solusi bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang sama. Ok lihatlah Papua, berapa banyak program kerja pemerintah yang bisa berhasil diterapkan di Papua?! (*maaf ngelantur), saya tiba2 ingat buku berjudul “Ekspedisi Tanah Papua” tentang fakta-fakta ini. 1 solusi atau program atau apappun itu yang kiranya berhasil diterapkan di 1 provinsi belum tentu mendapatkan hasil yang sama dan bersambut ria jika diterapkan di provinsi yang lain. Jikalau kita ingin mempelajari sesuatu untuk menyelesaikan sesuatu (*misal), pelajarilah dengan seksama, janganlah ditelan mentah-mentah, karena apa yang baik dari orang lain belum tentu baik juga bagi kita, mencari arti dalam arti memang mudah dikatakan tapi tidak semudah yang dilakukan, butuh kesadaran dan ketenangan tinggi, perlu latihan. Be yourself, dengan menundukan ego, saya sangat senang sekali belajar dari banyak orang, tidak musti hal-hal yang berbau serius, hal-hal santai dan tidak penting pun bisa memperkaya kita klo kita sadar.
Seperti apa yang pernah dikatakan guru besar TI ITB, Pak Raka, seraplah banyak hal dari luar, dan adaptasikan dengan internal yang ada pada diri kita masing, semoga kita bisa tumbuh dewasa dengan originalitas dan keunikan kita masing tanpa harus berpura-pura dalam kepalsuan belaka. Ya begitulah, saat itu memang saya lebih menyerap filosofi dari kata2 dosen saya itu dibandingkan dengan ilmu quantum mechanics (*masih dasar2) yang dia berikan hehehe…..mungkin karena waktunya yang kurang cocok (Dinner time 5.30-7 pm) jadi saya mendengarkan sambil posisi tidur setengah mateng. Ok terimakasi Pak ^^
Terkait dengan pengambilan keputusan, keunikan dan originalitas pun bagi saya sangat diperlukan. Kita sendiri pun kadang-kadang sangat mudah mensitir atau mengutip kata-kata atau tindakan seseorang yang “punya nama”, kemudian menirukannya, dan bahkan ingin menjadi 100% sepertinya, tanpa menggali keunikan dan potensi diri yang ada pada diri kita sendiri. Tenang ini wajar, terlebih anak2 remaja/muda yang memiliki tokoh idola, seperti ketika saya masih sma, saya ingin sekali bisa menyanyi diatas panggung layaknya Axl Rose (GNR), tapi bagaimana bisa, wong tampil diatas panggung saja masih grogi…hehehe. Atau mungkin seperti Russell Crowe di film Gladiator ” What we do in life echoes in eternity ! “, saya pernah sering mengucapkannya ke tmn2 kalau kita sedang dalam kondisi bingung, alhasil mereka tertawa dan bilang “ngomong apa sih?” yaaaa…emang gak nyambung dan gak pada tempatnya mengucapkan itu hehehe., belum lagi suara Russel Crowe berat dan berwibawa seperti Van Diesel atau Hugh Jackman, yang benar2 seperti langit dan bumi dibandingkan suara saya yang hancur lebur berantakan guling2.Ya begitulah kalau kita mencoba meniru orang mentah2 dan menerapkannya di saat yang tidak tepat.
Medan perbuatan tidak semudah medan kata-kata, ini salah satu quote2 terucap yang saya ingat ketika menjadi anggota biasa HMFT di ITB dulu. Memang mudah sekali menghafalkan quote2 bagus, tapi quotes2 itu tetaplah hampa tanpa dirasakan atau dilakukan. Ok mumpung ingat, sebuah perenungan dangkal saya di sebuah gereja tua yang tidak sengaja saya masuki, dan memang tidak masuk di list itenaries perjalanan saya. Gereja itu bernama Saint Eustache (*mudah2an gak salah) letaknya dekat Forum Les Halles (*tempat sbenarnya yang ingin saya tuju, karena ramai dan salah satu tempat kongko-kongko di Paris). Setelah membaca buklet2 informasi yang ada, menurut saya gereja ini tidak seterkenal dan tidak seramai gereja2 lain di Paris (e.q Notre Dome). Saat itu saya mencoba duduk di altar sambil beristirahat, menundukkan kepala-memejamkan mata seolah-olah sedang berdoa, setelah kira2 30 menit dalam kondisi tidur setengah mateng saya kembali terjaga dan melihat sekitar saya, suasana begitu tenang hanya ada beberapa org saat itu, aroma-aroma dan design bangunan pun membawa saya terbang seolah-olah sedang ada di abad pertengahan, zaman dimana Michaelangelo Buonarroti dan Leonardo da Vinci saling berlomba-lomba dalam berkarya seni. Kemudian ada yang janggal terlihat, saya selalu heran mengapa orang-orang lebih senang menyalakan lilin dan mungkin meminta pencerahan dihadapan patung Yesus yang jelas-jelas tampak menahan sakit didalam salibnya.?! bukankah ini terlalu ego?ya saya tidak tahu, tp biarkanlah saya berekspresi sejenak dulu, ok, mungkin inilah yang namanya kebesaran jiwa yang sangat diperlukan dalam mengambil keputusan, komitmen penuh dalam mencintai seluruh umat manusia, selayaknya mencintai diri sendiri. Ahhh ini tidak semudah yang diucapkan, bisakah kita mencintai tetangga kita/org yang belum kita kenal selayaknya mencintai keluarga kita?! benar2 dibutuhkan jiwa yang sangat besar, indah memang diucapkan namun tidak mudah dilakukan, saya pun tidak yakin 100% Mahatma Gandhi mampu mencapai sifat kasihnya mencintai seluruh umat manusia tanpa perbedaan, seperti samudra layaknya kemanusiaan yang selalu bersih meski tertetesi noda dari limbah. Entahlahh…paling tidak saya belajar tentang kebesaran jiwa dalam mengambil keputusan, hati kita tetaplah lemah meski dengan menyalakan lilin, jikalau tidak kuat dan mau menggendong beban salib yang ada di Saint Eustache itu. Sekarang saya mengerti apa yang saya tulis saat ini, memang pengambilan keputusan apapun itu, untuk diri sendiri atau hal-hal publik lainnya selain harus bersifat unik/original dalam arti benar-benar pas dengan pribadi kita ataupun tradisi setempat, haruslah berangkat dari jiwa yang besar dan tidak menengadah.
|
|
Nah sekarang hal tersulit bagi saya mungkin dalam mengambil keputusan adalah untung-rugi (baik-buruk). Seringkali hal ini membawa kita dalam situasi keragu-raguan dan memperlemah mental kita dan semakin pengecut pada akhirnya. Ini wajar, bahkan tokoh pewayangan sekaliber Arjuna saja masih ragu dalam berperang di medan Kurushetra, sebelum mendapat pencerahan dari Krishna. Bagaimana tidak musuh-musuh yang dihadapinya saat itu adalah keluarga-keluarganya sendiri (sepupu,paman, kakek, dll). Keragu-raguan dan ketakutan mungkin enak dan indah terdengar untuk dibahas, tp tidak seindah yang dirasakan langsung, misalkan dulu saya sangat ragu bisa berlari mengelilingi lapangan sabuga lebih dari 20 putaran non-stop (karena 4 putaran saja sudah ngos-ngosan), inipun karena dipaksa sahabat-sahabat saya Gama, Alif, dan Kang Yoga untuk latihan menembus batas persiapan sebuah pertandingan bela diri di bandung, karena menurut guru kami ketakutan terbesar dalam hidupnya adalah detik-detik sebelum bertanding menghadapi lawannya diarena, karena seluruh keraguan, adrenalin, dan takut akan mati selalu membayangi (*mengingat sering kali orang cidera, pingsan, dan bahkan mati dalam olah raga bela diri jenis ini, San-Sho, karena sangat keras), akhirnya keraguan dan ketakutan itu terjawab sudah, saya mampu mengelilingi lapangan sabuga 22 kali+1x fast sprint+1x jalan santai, alhasil kaki saya esok harinya mati rasa, seperti sudah di amputasi, dan terpaksa memanggil tukang pijat langganan kami, ditengah hujan deras malam minggu, seolah olah malam minggu sudah berubah menjadi malam jumat…heheh. Ikan-ikan saya pun tampaknya sudah kehilangan urat malunya bergerak kesana kemari menertawakan saya, seperti biasa teman-teman yang lain mulai berkumpul di kamar saya, bermain gitar, chapsa, dan WE sambil makan Indomie goreng buatan Dimas, dan susu coklat dari Luki.
Well, back to my leptop, banyak tools sebenarnya yang pernah saya pelajari dalam mengambil keputusan ini, mulai dari SWOT Analysis yang populer dipakai di organisasi2 anak2 kampus dulu ataupun kuliah Decesion making di SBM ITB oleh Pak Kuntoro Mangkusubroto, bagi saya tak satupun yang memberikan jawaban memuaskan tentang keragu-raguan ini, padahal ini lah hal paling riskan menurut saya (*mungkin karena saya sering merasakannya). Siapa sih org yang tidak pernah sama sekali merasa ragu-ragu dalam mengambil keputusan?tidak ada !!, karena kita pasti selalu menimang dan memikirkan setiap sisi baik dan buruknya setiap pilihan dari keputusan yang bakal kita ambil, namun yang terpenting adalah kita harus memilih, karena pilihannya bukanlah baik atau buruk, karena tidak ada 100% kebaikan ataupun 100% keburukan, disetiap sisi kebaikan yang kita lihat pastilah ada keburukannya, demikian juga sebaliknya, pasti ada sisa-sisa atau keunikan yang baik dari sebuah keburukan yang kita lihat. Tidak mengambil keputusan pun merupakan sebuah keputusan juga. Berkerjalah tanpa keterikatan akan hasil, tak perlu memikirkan kemenangan atau kegagalan, dengan jiwa seimbang, dan tidak terikat pada pengalaman suka dan duka, berkaryalah dengan penuh semangat !